SELAMAT DATANG DI INFO PERKEMBANGAN MUSIK INDONESIA

Minggu, 21 Maret 2010

Java Jazz Raih Rekor Festival Terbesar di Dunia

Pendiri Museum Rekor Indonesia Jaya Suprana memberikan penghargaan piagam tertinggi rekor dunia kepada Peter F. Gontha, bos Java Jazz Festival. Piagam itu diberikan seusai pementasan Jaya Suprana bersama Quartet Punakawan di Semeru Garuda Airlines Hall, Jakarta International Expo, Kemayoran, Jumat malam.

Menurut Jaya, Java Jazz kalai ini merupakan pergelaran yang luar biasa, karena festival tersebut diisi oleh sekitar 1.300 musisi dengan 21 panggung dalam satu kawasan. Ini merupakan yang terbesar di dunia. “Baru pertama kali di dunia ada festival jazz terbesar yang diadakan dalam satu kawasan,” kata Jaya.

Peter Gontha tampak sangat senang menerima penghargaan tersebut. “Ini merupakan penghargaan yang luar biasa,” ujarnya. “Kami berharap dapat memberikan suguhan acara yang menarik, khususnya untuk masyarakat Indonesia

Karena besarnya acara ini, tak tanggung-tanggung, bos besar Jakarta International Java Jazz Festival 2010, Peter S. Gontha, mematok target 120 pengunjung dalam pergelaran keenamnya.

Guns N' Roses Akan Gelar Konser Rahasia di Amerika Selatan

Guns N’ Roses bakal menggelar tiga konser rahasia di Brasil dan Argentina dalam tur ke Amerika Serikat. Hal tersebut diungkapkan penyelenggara tur Guns N’ Roses, Senin (8/3).

Konser tersebut akan digelar di lokasi yang dirahasiakan di Sao Paulo pada Kamis (11/3) dan Buenos Aires pada 20 Maret. Rencananya, konser rahasia juga akan digelar di Rio de Janeiro.

Penyelenggara tur, Jamison Ernest, mengatakan setiap tempat konser akan dihadiri 150 orang. Ernest menolak membeberkan secara rinci mengenai konser tersebut karena takut terjadi kerusuhan akibat tamu-tamu tak diundang. Ernest akan menjadi pembawa acara konser Guns N’ Roses di Sao Paulo bersama model Brasil Ana Beatriz Barros.

Guns N’ Roses menggelar tur 11 hari ke Amerika Selatan. Tur tersebut merupakan yang pertama sejak 1992 Guns N’ Roses tampil di Amerika Selatan. Guns N’ Roses juga akan tampil di Ekuador, Uruguay, Cile, Peru, Venezuela, dan Kolombia.

Ernest dikenal sebagai teman vokalis Guns N’ Roses Axl Rose. Ernest juga memiliki perusahaan pembuat pakaian dan menggawangi sebuah band bernama Yello Fever. Sebelumnya, Guns N’ Roses tampil di tiga konser rahasia yaitu dua di New York dan satu di London.

Axl Rose merupakan satu-satunya personel yang tersisa setelah Guns N’ Roses melewati masa-masa keemasan antara tahun 1980 sampai 1990. Guns N’ Roses terakhir mengeluarkan album bertajuk Chinese Democracy pada 2008.

Konser Bertabur Berlian Sheila Majid

Penyanyi Malaysia Sheila Majid akan merayakan 25 tahun perjalanan kariernya dengan konser tunggal bertabur berlian. Konser megah bertajuk A Charity Gala Tribute to Women featuring Dato Sheila Majid in Aid of Institut Jantung Negara Malaysia tersebut akan berlangsung di Rumah Mode Counture Kebaya Cosry, Malaysia, 10 April 2010 mendatang.

“Konser ini punya tiga makna sekaligus,” kata penyanayi kelahiran 3 Januari 1965 itu kepada wartawan di Kemang Jakarta, Sabtu lalu (6/3). Pertama, acara ini dipersembahkan untuk para perempuan, baik di Malaysia maupun Indonesia. Kedua, acara ini merupakani perayaan 25 tahun perjalan karir sang pelantung Cinta Jangan Kau Pergi itu. “Yang ketiga, ini adalah sebuah pameran busana kebaya yang menjadi kebanggaan Indonesia, karena perancangnya juga dari Indonesia,” kata Sheila yang berencana membawakan 40 lagu. Perancang busana yang dimaksud Sheila adalah Putra Aziz yang mempopulerkan busana kebaya di negara jiran itu.

Dalam konser itu Sheila akan mengenakan kebaya bertahtakan 500 butir berlian kecil dan tiga butir berlian besar perpaduan berlian hitam dan putih. Menurut sang perancang, harga satu butir berlian kecil mencapai Rp. 2 miliar. “Satu berlian besar pun diperkirakan harganya lebih dari Rp 10 miliar,” ujar Putra. Diperkirakan harga kebaya itu lebih dari Rp 1 triliun. Tak heran bila dalam peragaan busana 30 koleksi kebaya Cosry itu Sheila akan dikawal ketat 30 orang bodyguard. “Kebaya itu saya pakai cuma sebentar, lalu akan dilelang untuk Institut Jantung Negara Malaysia,” kata penyanyi yang mulai dikenal di Indonesia melalui lagu Antara Anyer dan Jakarta itu.

Konser 200 Tahun Chopin

Pusat Kebuyaan Prancis (CCF) Jakarta bekerja sama dengan Kedutaan besar Polandia menggelar konser musik klasik "Bicentennial Chopin" dengan menampilkan tiga pianis dari tiga negara, yakni Dana Ciocarlie (Prancis), Adam Makowicz (Polandia), dan Ary Sutedja (Indonesia), serta seorang pemain cello, Asep Hidayat. Konser digelar malam ini pukul 20.00 WIB di Gedung Kesenian Jakarta, Jl. Gedung Kesenian No.1, Jakarta Pusat.

Acara ini juga diramaikan dengan Pameran "Chopin di Paris" pada hari ini di Gedung Kesenian Jakarta dan selama 11-27 Maret di Galeri CCF, Jl. Salemba Raya No.25, Jakarta Pusat. Acara ini sebagai bagian dari peringatan 200 tahun kelahiran Chopin (1 Maret 1810-17 Oktober 1849), musisi Romantik kelahiran Polandia yang sering menggelar konser di Paris pada zaman keemasannya.

"Kekayaan dan keanekaragaman karya musisi besar ini akan dibawakan secara
gemilang oleh tiga pianis (Prancis, Polandia dan Indonesia) dan satu pemain cello
Indonesia--sebuah penghormatan kepada pemain piano yang tak tertandingi, musisi
berbakat dan yang mahir dalam improvisasi," kata CCF Jakarta dalam rilisnya.

Repertoar yang akan dimainkan antara lain 5 Valses; Polonaise No.7 en la bémol majeur, opus 61; Polonaise Fantaisie; 3 Mazurkas, opus 59; Rondeau à la Mazur en fa majeur, opus 5; Chopin sonata for Cello Piano in g minor opus 65; Prelude No.3, opus 28; Prelude No.4, opus 28; Prelude No.2, opus 28; Nocturne No.1, opus 15; Prelude No.24, opus 28; Fantaisie-Impromptu, opus 66; Prelude No.7, opus 28; Ballad No.38; dan Mazurka No.4, opus 17.

Peewe Gaskins Ngepunk di Makassar

Sembilan gadis menari lincah. Kadang sambil berlarian, mereka mengelilingi panggung samping dan depan. Panggung luas yang dialasi karpet merah itu sendiri penuh oleh musisi dan alat musik yang dicahayai lampu-lampu kecil di setiap papan partitur.

Lagu Kembali ke Sekolah aransemen Elfa Secoria yang ditingkahi tarian itu membuka konser bertajuk “The Cinema of Life Symphony” yang digelar ITB Student Orchestra (ISO) di gedung Sasana Budaya Ganesha, Bandung, Jawa Barat. Pertunjukan semalam tersebut menandai lustrum perdana unit kegiatan orkestra mahasiswa ITB yang terbentuk pada 2 Maret 2005.

Gambaran perjalanan yang tak mudah disertai harapan besar untuk membentuk dan bermain dalam kelompok orkestra itulah yang ditampilkan dengan membawakan lagu-lagu original soundtrack film dalam dan luar negeri. Penonton seperti diajak memasuki gedung bioskop sambil menyaksikan sajian orkestra langsung.

Seusai lagu pembuka, beberapa detik kemudian mengalun denting gitar yang membawakan The Simpson's Theme. Di layar latar panggung, muncul thriller film kartun keluarga konyol Amerika itu sampai penghabisan lagu.

Seluruhnya ada 18 lagu yang dimainkan. Sebagian besar adalah original soundtrack, seperti The Entertainer dari film The Sting, A Whole New World (Aladdin), hingga The Black Pearl (Pirates of the Carribean: Curse of the Black Pearl. Satu-satunya original soundtrack film Indonesia yang terselip adalah lagu Sempurna (Andra & The Backbone) dari film Love. Setiap lagu mengusung cuplikan filmnya masing-masing.

Konser yang melibatkan 100 musisi dengan konduktor Muhammad Ghifary itu juga menggaet Paduan Suara Mahasiswa ITB, Marching Band Waditra Ganesha, Salamander Big Band, kelompok tari Infinity, dan bintang tamu Christopher Abimanyu. Dengan suara tenornya, Christopher melantunkan This Is The Moment (OST Jekyll & Hide), serta The Prayer (Quest for Camelot).

“Sebelumnya, konser ini hanya angan-angan belaka dengan segala keterbatasan kami," kata ketua pelaksana acara Charismatika Chinitra. Pertunjukan yang terbagi dalam 2 sesi itu cukup apik memadukan orkestra dengan balutan pop dan jazz. Lagu Go The Distance dari film Hercules menjadi pemungkas konser mahasiswa ITB Sabtu malam lalu itu.

Rapsodia Nusantara Ananda Sukarlan

Komponis dan pianis Ananda Sukarlan akan kembali ke Indonesia dan menggelar konser di World Theater, British International School, Bintara, Jakarta pada 25 April mendatang . Dalam konser berakustik itu, Ananda akan membawakan karya-karyanya yang sangat virtuosik untuk piano tunggal, Rapsodia Nusantara . Rapsodia Nusantara terinspirasi oleh Hungarian Rhapsodies karya komponis Hungaria Franz Liszt yang diciptakan berdasarkan lagu-lagu rakyat Hungaria.

Rapsodia Nusantara garapan Ananda merupakan satu rangkaian elaborasi virtuosik, bukan sekadar aransemen, dari lagu-lagu rakyat Indonesia seperti Rasa Sayange, Anging Mamiri, dan Jali-Jali.Saat ini Ananda telah menyelesaikan tujuh nomor Rapsodia Nusantara yang kini telah dimainkan oleh ratusan pianis lainnya di seluruh dunia, sehingga misinya untuk memperkenalkan lagu-lagu rakyat Indonesia lewat piano tercapai.

Dalam konser yang juga akan digelar di Surabaya, untuk pertama kali Ananda akan menampilkan Rapsodia Nusantara no. 4, yang merupakan lagu wajib untuk kompetisi nasional Ananda Sukarlan Award yang akan diadakan bulan Juli mendatang. Dua bintang tamu akan mendampinginya, yakni Victoria Audrey Sarasvathi, 13 tahun, yang akan memainkan Rapsodia Nusantara no. 1, dan penyanyi tenor Dani Wisnu Dumadi yang akan menyanyikan enam buah lagu diiringi oleh sang komponis.

Selain karya-karyanya sendiri, dalam konser ini Ananda juga bakal mempersembahkan beberapa musik untuk piano solo karya Amir Pasaribu, komponis besar Indonesia yang meninggal 10 Februari 2010 lalu dalam usia 94 tahun.

Konser Rock Mengenang 100 Hari Ucok AKA

Untuk mengenang 100 hari meninggalnya musisi Ucok Harahap, Unit Pelaksana Teknis Balai Pemuda Surabaya dan Dewan Kesenian Surabaya, Jawa Timur, menggelar pertunjukkan musik rock pada Selasa besok. Pertunjukkan yang akan berlangsung nonstop di halaman Balai Pemuda mulai pukul 13.50 - 23.00 WIB tersebut menampilkan 20 grup band beraliran cadas asal Jawa Timur.

Sekretaris II Dewan Kesenian Surabaya Farid Syamlan mengatakan, sebagian penampil nantinya akan menyanyikan beberapa lagu Ucok bersama grup AKA yang pernah hits di era 60 - 70an. "Pertunjukkan ini memang kami dedikasikan kepada almarhum yang memulai kariernya dari Surabaya," kata Farid.

Selain konser musik, Dewan Kesenian Surabaya juga akan memberikan apresiasi berupa lukisan Ucok di atas kanvas. Lukisan karya seniman Dewan Kesenian Surabaya tersebut akan dimintakan tanda tangan kepada para tamu dan undangan yang hadir. "Selanjutnya lukisan itu kami serahkan pada keluarga Ucok,” Farid menambahkan.

Pengamat musik Surabaya Solikin Jabar menyatakan, sebagai musisi lelaki yang meninggal pada 3 Desember 2009 itu belum tergantikan hingga saat ini. Ucok tak hanya menghibur penggemarnya lewat lagu-lagunya saja, tapi juga aksi teatrikalnya di atas panggung.

Misalnya, saat menyanyi di Gelora 10 Nopember Surabaya pada awal 70-an, tutur Solikin, Ucok tampil dengan tubuh diikat di roda pedati. "Dia menyanyi sambil roda pedatinya digelindingkan, tapi suaranya tetap stabil.”